38°C
December 4, 2022
Berita Bola Sports

Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan, SOS Sepak Bola Indonesia COVER STORY Sebagai Berikit

  • October 19, 2022
  • 3 min read
  • 33 Views
Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan, SOS Sepak Bola Indonesia COVER STORY Sebagai Berikit

Orange777– unkan doa untuk Muhammad Arifin (45 tahun) dan Muhammad Rifki Aditya (13 tahun). Keduanya adalah dua dari 132 korban meninggal di Tragedi Kanjuruhan selepas laga Arema FC kontra Persebaya Persebaya, pada Sabtu malam yang nahas, 1 Oktober 2022.

Ayah dan anak tersebut berangkat ke Stadion Kanjuruhan untuk bersuka cita mendukung Arema yang mereka cintai menghadapi laga sarat gengsi melawan Persebaya Surabaya, namun berujung nestapa. Bagi Muhammad Rifki, itu menjadi momen pertama dan terakhirnya menonton langsung pertandingan Singo Edan di Stadion Kanjuruhan.

Kepergian ayah dan anak tersebut meninggalkan duka tak terperi bagi Lutfiati, 44 tahun. Ia adalah istri Arifin sekaligus ibu Rifki. Duka mendalam juga menerjang Rizal Putra Pratama (22 tahun), anak pertama di keluarga itu. Rizal juga pergi ke Stadion Kanjuruhan malam itu, namun hanya menonton dari luar, dan selamat dari tragedi mengerikan di dalam stadion.

“Sebenarnya saya tidak kepikiran mau nonton ke Stadion Kanjuruhan, karena tidak punya tiket. Tiket juga sudah sold out. Tetapi, adik dan bapak mengajak nonton ke Kanjuruhan, mau nobar di luar saja,” ucap Rizal mengawali kisah pedih pada malam itu, didampingi ibunya yang beberapa kali menangis terisak saat tak kuasa menanggung kesedihan.

Muhammad Arifin sudah lama tidak menonton langsung aksi Arema di stadion. Padahal, di masa mudanya ia adalah Aremania yang rajin mendukung Singo Edan bertanding, baik kandang maupun tandang. Kecintaannya terhadap Arema diturunkan ke Rizal dan Rifky. Rizal pun tumbuh menjadi suporter fanatik Singo Edan.

Hari itu mereka berangkat berenam ke Stadion Kanjuruhan. Rizal, sang ayah, Rifki, sepupunya Pasha (seumuran dengan Rifki), dan dua temannya, tanpa memegang tiket. Hanya mau nonton bareng di luar stadion. Namun, ada orang asing yang begitu saja memberikan tiket gratis kepada Arifin. Hanya ada tiga tiket, jadi tidak semua bisa masuk stadion.

“Karena adik dan Pasha belum pernah nonton, saya menyuruh mereka saja yang masuk. Saya juga minta bapak mendampingi, dan masuk ke tribune 11, tempatnya Aremania dari Tumpang. Terus saya nobar di depan stadion,” tutur Rizal.

Setelah pertandingan selesai, Rizal berjalan menuju parkiran, sembari menunggu ayah, adik, dan sepupunya kembali dari dalam stadion. Namun, mereka tidak kunjung muncul. Saat itu sudah ada info tentang penembakan gas air mata di dalam stadion. Di dalam stadion sudah rusuh.

Rizal mulai waswas. Dia bergegas menuju tribune 11. Pintu di tribune tersebut sudah terbuka dan banyak korban berjatuhan. Rizal panik. Dia bertanya kepada seorang tentara tentang keberadaan ayah dan adik. serta sepupunya. Tentara itu memintanya mencari mereka ke tribune VVIP. Di sana, Rizal bertemu Aremania dari Korwil Tumpang. Rizal terus menanyakan keberadaan ayah, adik, dan sepupunya.

“Saya bertemu tetangga saya, Mas Trimo. Dia bilang ayah saya mengantarkan anak-anak (suporter) ke RS Wava Husada dan sedang mencari Rifki. Pasha sudah ketemu, kondisinya lecet semua di bagian kaki, habis diinjak-injak. Saya langsung minta diantarkan ke Wava Husada. Perasaan saya sudah tidak karu-karuan,” tutur Rizal.

About Author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.